Jumat, 02 Mei 2014

Ini Ceritaku Apa Ceritamu?


Pagi itu terasa lebih hangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena disebabkan adanya letupan-letupan bara semangat yang memancar dari pengurus HASKA JMF 2014 yang akan mengikuti UpGrading. Semangat lillah...
09.00 WIB, setelah semua atribut komplit dan sudah ‘membekali’ diri, aku meluncur ke Masjid Mujahiddin sesuai titah Umi dan Abi LJ dengan rasa bungah. Aku dan Wulan bertemu di titik koordinat di tikungan Kopma. Kami menghantarkan kaki ke halaman IEC, menoleh ke sana ke mari, namun bukan keramaian yang kami dapati. Benar kan, sms Umi - Abi tadi? Apa kami sudah ditinggal? Astagfirullah, mungkin saja ada suatu hal yang kami belum tahu itu apa. Mari berhuznudzan. Kami memutuskan untuk menunggu di teras Masmuddin bagian akhwat. Dan satu per satu pengurus pun mulai berdatangan. JRMN, Taksi, HSC.

Kerisauan kami pun akhirnya tersingkap. Umi Ije datang. Ternyata benar saja, Umi Ije baru saja menyelesaikan suatu hal yang tak bisa dijelaskan di sini. Bukan, bukan hal yang membahayakan, kok.  Rangers LJ sudah lengkap, belum lengkap sih tepatnya, karena hanya 6 Rangers yang akan mengikuti UG. Tapi tak apa, walau tak semua Rangers berangkat, tapi semangat Lillah Rangers yang berangkat tak teredam. Kami pindah posisi ke Ex-UPPL (sekarang GK FE). Di tempat itu, para ranger menyempatkan untuk mengabadikan momen. Lebih tepatnya sih akhwat rangers saja. Akhwat JRMN dan akhwat LJ mengentikan berjepret ria saat Akh Ibrohim mengintruksikan kedua tim-bidang ini untuk move dari UPPL. Tunggu. Kok, hanya JRMN dan LJ saja? Setelah do’a bersama sebelum memulai perjalanan (benar-benar berjalan), lalu terdengar riuh sana-sini. Kebanyakan adalah pertanyaan: TJ atau Bis? Syurrr. Ternyata hipotesisku selama ini bernilai nol, alias salah. Kukira kami akan berangkat menggunakan beberapa bis khusus yang telah disewa untuk membawa kami ke tempat tujuan UG. Ternyata? Tapi tak apa. No problemo. Berjalan beriringan seperti ini membuat kami merasa lebih erat. Meskipun sebagian besar masing-masing dari kami, LJ dan JRMN (yang baru), belum terlalu saling mengenal. Kaki-kaki yang saling beradu dengan jalanan UNY ini berderap saling memperkuat. Bersama, bukan lelah yang kami rasa.
Tempat tujuan UG? Mungkin sampai di halte Colombo pun aku masih belum tahu tempat tujuan UG kali ini kalau Umi Ije tak mengatakannya. Piyungan. Hanya itu yang kutahu. Dan aku belum berminat untuk mencari tahu alamat detilnya. Kembali ke halte Colombo, yang kini menjadi penuh sesak. Belasan gabungan ikhwan-akhwat ini sedang berada di antara dua pilihan, yang untuk memilihnya saja membutuhkan waktu sekitar belasan menit. Transjogja? Bis 7? Transjogja atau bis 7? Bis 7 atau TJ? Tepat di titik puncak kebimbangan (aku sedikit melebihkan), mata kami menangkap transjogja yang mendekat. Cling! Jarum jam menunjukkan pukul 10.30. Naik transjogja saja, yuk! Aku tak ingat siapa yang mengatakannya. Sepertinya itu pilihan terbaik, daripada melanjutkan menanti bis 7 yang belum pasti datangnya kapan. Halte Colombo pun kembali lega setelah penghuninya angkat kaki, kemudian masuk ke transjogja. Aku duduk di bangku paling belakang, di antara Wulan dan Tami. Beberapa tak kebagian tempat duduk yang jumlahnya ehem sangat terbatas, termasuk Umi Ije. Semangat, Mi!
Setelah sekali transit TJ, dan melanjutkan dengan bis dari St. Giwangan, kami hampir sampai di tempat tujuan. Ya, hampir sampai, karena untuk mencapai tempat tujuan UG yang sesungguhnya, kami harus berjalan (lagi) sejauh... berapa kilometer, ya? Skip. Aku tak tahu. Saat itu sekitar pukul 11.35, dan setelah berjalan kaki, kami sampai sekitar pukul 12.15.  Alhamdulilillah, akhirnya kami menginjak tempat UG sesungguhnya. Sebuah rumah warga yang cukup nyaman dan cukup luas untuk UG HASKA. Para akhwat yang sudah tiba lalu meletakkan tas, sholat dzuhur berjamaah, lalu makan perbekalan yang sudah dibawa. Akh Agung, selaku Koord Acara, sudah menguprak-uprak akhwat yang masih makan agar segera menyelesaikan makannya karena acara akan segera dimulai. Refleks, aku (dan mungkin akhwat lain) memasukkan makanan yang masih ada dengan kelewat semangat, tak ingin menambah keterlambatan yang sudah terlambat.
13.00, Akh Agung membuka acara ketika semua sudah on good position. Tak terlupakan, beliau juga menyerukan jargon UG HASKA 2014, yakni: Ukhuwah, ukhuwah, uuukhuwah! Jargon dengan nada nan unyu ini sangat ampuh untuk memompa semangat. Kemudian dilanjutkan tilawah oleh abi-nya LJ, Akh Yuyun. Semoga mendapat kebarokahan dari-Nya. Setelah itu, sambutan klasikal dari Akh Tejo Furqoni. Beberapa untai kata yang dapat kuambil dari sambutan klasikal itu ialah: Allah SWT akan memasukkan hamba-Nya ke syurga-Nya secara bersama-sama, tidak sendiri-sendiri.
Acara selanjutnya yakni sambutan ke-tutorial-an oleh Akh Aziz, Ketua Tutorial PAI 2014. Beberapa statements beliau ialah: Tutorial hanya alat untuk menjaga kita agar tetap berdakwah. Dan bekal untuk berdakwah adalah ruhiyah, jasadiyah, dan fiqriyah. Motivasi yang sudah ditanamkan tak boleh surut tapi harus meningkat. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Setelah sambutan oleh Akh Aziz, lalu sambutan ke-LDK-an oleh Akh Taat, Ketua UKKI 2014. Dengan suasana yang semakin cair, beliau mengingatkan bahwa SKI-SKI yang ada di UNY itu saling mengokohkan fungsi LDK itu sendiri yakni kaderisasi (regenerasi) dan syi’ar. Setelah menerima materi keren dari kedua pembicara keren pula, waktu Ashar pun tiba. Kami semua sholat berjama’ah di masjid depan rumah yang kami tempati, masjid Ar-Ra’d (kalau tidak lupa, ya ^^v).
Nah ada yang hampir terlupakan. Perkam, PU, Binkad. Ada apa dengan mereka? Mereka terlambat, saudara-saudara. Bahkan ada yang baru sampai pukul 13.30. Menurut sumber yang terpercaya, mereka yang terlambat mendapat hukuman: push-up (ikhwan) dan squat-jump (akhwat). Kabid ataupun perwakilan dari masing-masing bidang diminta untuk memberi klarifikasi atas keterlambatan mereka di hadapan peserta UG lain. Walaupun dengan alasan-alasan yang sudah dikemukakan, tetap saja terlambat itu tidak dibenarkan. Terlebih terlambat yang sangat terlambat.
Acara berikutnya yakni diskusi yang dibersamai oleh Akh Arif Budiman, dan pembicara super yakni Akh Afri Yudantoko (Fakultas Teknik). Beliau sangat aktif di berbagai organisasi seperti SKI, UKM, dan perkumpulan pemuda di rumahnya. Namun soal prestasi akademiknya, pun sangat oke. Mondar-mandir mengikuti lomba di nusantara, bahkan sampai ke Korea dalam perlombaan mobil listrik. Beliau yang baru saja lulus dengan predikat Cumlaude, berpendapat bahwa organisasi adalah tempat untuk mengeluarkan potensi/kekuatan. Antara organisasi dan prestasi, beliau mengibaratkannya seperti timbangan (yang bertiang). Di mana satu tiang utamanya itu adalah satu tujuan, satu motivasi, yakni mencari ridho Alloh SWT. Berbuat baiklah setiap detik. Dan menurut beliau, kesibukkan yang dimiliki dibuat enjoy saja, karena dengan kesibukkan itulah salahsatu ikhtiar untuk mencapai ridho Alloh SWT.
Jam menunjukkan pukul 17.10, panitia berkenan memberikan waktu untuk melanjutkan Syukrosa yang sebelumnya dipending. Presentasi proker oleh Sekjend, Idari, Ma’ali, dan Mas’ul-Mas’ulah HASKA JMF 2014. Masuk waktu Maghrib, semua bersiap menuju masjid. Seusai sholat berjama’ah, kami membaca Al-Ma’surat bersama. Subhanalloh. Dinding-dinding masjid pun ikut bergetar saat Al-Ma’surat dibacakan. Dilanjutkan tilawah bersama mengkhatamkan Al-Qur’an saat itu juga. Jadi para akhwat dibagi untuk membaca beberapa lembar, hingga 30 Juz dapat khatam. Lalu sholat Isya’ berjama’ah.
Acara selanjutnya yakni makan malam. Para akhwat melingkar di dalam aula utama, sementara yang ikhwan di pelataran depan rumah. Makan malam dibagikan. Setelah do’a bersama, kami memasukkan suapan demi suapan dengan lahapnya. Setelah energy fully charged, peserta UG diarahkan untuk berbaris di halaman depan rumah. Barisan ikhwan di depan barisan akhwat. Setelah barisan sudah siap, semua peserta UG diinstruksikan untuk menutup mata dengan slayer yang telah dibawa. Sebagian peserta mungkin sudah menduga bahwa pasti ini acara susur malam. Dengan mata tertutup, kami memegang bahu yang ada di depannya dalam satu barisan. Tanda kepercayaan pada orang yang di depannya. Dan setelah diaba-aba, barisanku pun mulai melangkah. Entah kakiku melangkah ke mana. Di kegelapan seperti ini, suara-suara terdengar jauh lebih jelas. Derapan kaki-kaki, suara jangkrik, suara sapi yang terbangun, gemericik air, hingga deruan napas. Rasanya kaki ini sudah melangkah jauh sekali. Dan kebanyakan jalanan menanjak. Tak jarang kakiku menginjak kaki Upi di depanku, tak sengaja tentunya. Napas-napas kami mulai terengal-engal. Tapi kami tak berhenti melafalkan surat As-Saff ayat 1-5. Menanjak dan terus menanjak. Masih dalam keadaan tertutup aku merasakan tanganku lepas dari bahu teman di depanku. Kini aku dituntun oleh seorang akhwat yang aku tak tahu itu siapa, suaranya seperti baru kudengar. Dalam keadaan mata masih tertutup, aku dibawa ke suatu tempat, kupikir ini seperti lapangan berumput. Aku duduk. Aku merasa di sekelingku banyak akhwat lain, tapi tak terengkuh olehku. Kebanyakkan sedang melantunkan As-Saff 1-5. Tunggu, ada suara tak asing. Marha? Kau kah itu? Nur? Kau kah itu? Tanganku meraba udara. Berusaha mendapatkan objek lain selain udara. Di kegelapan ini, dengan As-Saff yang terus dilantunkan,  akhirnya tangan ku bertautan dengan Marha dan Nur. Aku tak lagi ‘sendirian’.
Beberapa menit kemudian, suara lantang seorang ikhwan mengintruksikan kami untuk membuka mata setelah diaba-aba.  Tiga, dua, satu... kami membuka mata, mengerjap-ngerjap untuk membiasakan mata menangkap bayangan lain selain kegelapan. Subhanalloh. Malam-Mu terlalu luar biasa indah untuk tak disyukuri. Malam itu, di suatu ketinggian, mata kami menangkap bayangan yang sama: ratusan cahaya yang menerangi kegelapan di bawah sana. Peluh yang sewaktu perjalanan terus mengalir, kini kuhiraukan. Ada keindahan yang lebih dapat kuhiraukan saat itu. Mataku (dan mungkin semua mata yang ada di sana) tak bisa lepas memandangi cahaya-cahaya di bawah sana.
Suara lantang seorang ikhwan tadi (sampai saat ini aku lupa namanya ^^v) ‘memaksa’ ku untuk sejenak melepaskan pandangan terhadap ratusan cahaya itu. Beliau memantik semangat lillah kami untuk terus berjuang di jalan dakwah, berukhuwah, bersama-sama di HASKA JMF FMIPA 2014. Seusai pantikan itu, peserta UG diinstruksikan untuk kembali ke aula. Malam itu lebih bercahaya dari malam-malam sebelumnya. Karena cahaya-cahaya itu hadir setelah kegelapan yang tadinya ‘menjerat’. Malam itu lebih dari sekadar ‘susur malam’.
Perjalanan kembali ke aula ini tentunya tanpa harus menutup mata lagi. Kulihat jalanan yang kami lintasi tadi. Ternyata seperti ini medannya. Sampai di aula, sekitar pukul 23.30, setelah semua pintu dan jendela tertutup, para akhwat bersiap untuk mengistirahatkan raga dan pikiran, tidur. Malam ini menyimpan cerita tersendiri. Di tengah ukhuwah yang hangatnya bukan main. Untaian kata tak mampu mewakili kisah yang terjalin. Bismika Allohumma ahyaa wa amuut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar