Pagi itu
terasa lebih hangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena disebabkan adanya
letupan-letupan bara semangat yang memancar dari pengurus HASKA JMF 2014 yang
akan mengikuti UpGrading. Semangat lillah...
09.00 WIB, setelah
semua atribut komplit dan sudah ‘membekali’ diri, aku meluncur ke Masjid
Mujahiddin sesuai titah Umi dan Abi LJ dengan rasa bungah. Aku dan Wulan
bertemu di titik koordinat di tikungan Kopma. Kami menghantarkan kaki ke
halaman IEC, menoleh ke sana ke mari, namun bukan keramaian yang kami dapati.
Benar kan, sms Umi - Abi tadi? Apa kami sudah ditinggal? Astagfirullah, mungkin
saja ada suatu hal yang kami belum tahu itu apa. Mari berhuznudzan. Kami
memutuskan untuk menunggu di teras Masmuddin bagian akhwat. Dan satu per satu
pengurus pun mulai berdatangan. JRMN, Taksi, HSC.
Kerisauan
kami pun akhirnya tersingkap. Umi Ije datang. Ternyata benar saja, Umi Ije baru
saja menyelesaikan suatu hal yang tak bisa dijelaskan di sini. Bukan, bukan hal
yang membahayakan, kok. Rangers LJ sudah
lengkap, belum lengkap sih tepatnya, karena hanya 6 Rangers yang akan mengikuti
UG. Tapi tak apa, walau tak semua Rangers berangkat, tapi semangat Lillah
Rangers yang berangkat tak teredam. Kami pindah posisi ke Ex-UPPL (sekarang GK
FE). Di tempat itu, para ranger menyempatkan untuk mengabadikan momen. Lebih
tepatnya sih akhwat rangers saja. Akhwat JRMN dan akhwat LJ mengentikan
berjepret ria saat Akh Ibrohim mengintruksikan kedua tim-bidang ini untuk move
dari UPPL. Tunggu. Kok, hanya JRMN dan LJ saja? Setelah do’a bersama sebelum
memulai perjalanan (benar-benar berjalan), lalu terdengar riuh sana-sini.
Kebanyakan adalah pertanyaan: TJ atau Bis? Syurrr. Ternyata hipotesisku selama
ini bernilai nol, alias salah. Kukira kami akan berangkat menggunakan beberapa
bis khusus yang telah disewa untuk membawa kami ke tempat tujuan UG. Ternyata? Tapi
tak apa. No problemo. Berjalan beriringan seperti ini membuat kami merasa lebih
erat. Meskipun sebagian besar masing-masing dari kami, LJ dan JRMN (yang baru),
belum terlalu saling mengenal. Kaki-kaki yang saling beradu dengan jalanan UNY
ini berderap saling memperkuat. Bersama, bukan lelah yang kami rasa.
Tempat
tujuan UG? Mungkin sampai di halte Colombo pun aku masih belum tahu tempat tujuan
UG kali ini kalau Umi Ije tak mengatakannya. Piyungan. Hanya itu yang kutahu.
Dan aku belum berminat untuk mencari tahu alamat detilnya. Kembali ke halte
Colombo, yang kini menjadi penuh sesak. Belasan gabungan ikhwan-akhwat ini
sedang berada di antara dua pilihan, yang untuk memilihnya saja membutuhkan
waktu sekitar belasan menit. Transjogja? Bis 7? Transjogja atau bis 7? Bis 7
atau TJ? Tepat di titik puncak kebimbangan (aku sedikit melebihkan), mata kami
menangkap transjogja yang mendekat. Cling! Jarum jam menunjukkan pukul 10.30. Naik transjogja saja, yuk! Aku tak ingat
siapa yang mengatakannya. Sepertinya itu pilihan terbaik, daripada melanjutkan
menanti bis 7 yang belum pasti datangnya kapan. Halte Colombo pun kembali lega
setelah penghuninya angkat kaki, kemudian masuk ke transjogja. Aku duduk di
bangku paling belakang, di antara Wulan dan Tami. Beberapa tak kebagian tempat
duduk yang jumlahnya ehem sangat terbatas, termasuk Umi Ije. Semangat, Mi!
Setelah
sekali transit TJ, dan melanjutkan dengan bis dari St. Giwangan, kami hampir
sampai di tempat tujuan. Ya, hampir sampai, karena untuk mencapai tempat tujuan
UG yang sesungguhnya, kami harus berjalan (lagi) sejauh... berapa kilometer,
ya? Skip. Aku tak tahu. Saat itu sekitar pukul 11.35, dan setelah berjalan
kaki, kami sampai sekitar pukul 12.15. Alhamdulilillah,
akhirnya kami menginjak tempat UG sesungguhnya. Sebuah rumah warga yang cukup
nyaman dan cukup luas untuk UG HASKA. Para akhwat yang sudah tiba lalu
meletakkan tas, sholat dzuhur berjamaah, lalu makan perbekalan yang sudah
dibawa. Akh Agung, selaku Koord Acara, sudah menguprak-uprak akhwat yang masih
makan agar segera menyelesaikan makannya karena acara akan segera dimulai. Refleks,
aku (dan mungkin akhwat lain) memasukkan makanan yang masih ada dengan kelewat
semangat, tak ingin menambah keterlambatan yang sudah terlambat.
13.00, Akh
Agung membuka acara ketika semua
sudah on good position. Tak terlupakan, beliau juga menyerukan jargon UG HASKA
2014, yakni: Ukhuwah, ukhuwah,
uuukhuwah! Jargon dengan nada nan unyu ini sangat ampuh untuk memompa
semangat. Kemudian dilanjutkan tilawah
oleh abi-nya LJ, Akh Yuyun. Semoga mendapat kebarokahan dari-Nya. Setelah itu, sambutan klasikal dari Akh Tejo
Furqoni. Beberapa untai kata yang dapat kuambil dari sambutan klasikal itu
ialah: Allah SWT akan memasukkan
hamba-Nya ke syurga-Nya secara bersama-sama, tidak sendiri-sendiri.
Acara
selanjutnya yakni sambutan
ke-tutorial-an oleh Akh Aziz, Ketua Tutorial PAI 2014. Beberapa statements
beliau ialah: Tutorial hanya alat untuk
menjaga kita agar tetap berdakwah. Dan bekal untuk berdakwah adalah ruhiyah,
jasadiyah, dan fiqriyah. Motivasi yang sudah ditanamkan tak boleh surut tapi
harus meningkat. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Setelah
sambutan oleh Akh Aziz, lalu sambutan ke-LDK-an
oleh Akh Taat, Ketua UKKI 2014. Dengan suasana yang semakin cair, beliau
mengingatkan bahwa SKI-SKI yang ada di UNY itu saling mengokohkan fungsi LDK
itu sendiri yakni kaderisasi (regenerasi) dan syi’ar. Setelah menerima materi
keren dari kedua pembicara keren pula, waktu Ashar pun tiba. Kami semua sholat berjama’ah di masjid depan rumah
yang kami tempati, masjid Ar-Ra’d (kalau tidak lupa, ya ^^v).
Nah ada
yang hampir terlupakan. Perkam, PU, Binkad. Ada apa dengan mereka? Mereka
terlambat, saudara-saudara. Bahkan ada yang baru sampai pukul 13.30. Menurut
sumber yang terpercaya, mereka yang terlambat mendapat hukuman: push-up
(ikhwan) dan squat-jump (akhwat). Kabid ataupun perwakilan dari masing-masing
bidang diminta untuk memberi klarifikasi atas keterlambatan mereka di hadapan
peserta UG lain. Walaupun dengan alasan-alasan yang sudah dikemukakan, tetap
saja terlambat itu tidak dibenarkan. Terlebih terlambat yang sangat terlambat.
Acara berikutnya
yakni diskusi yang dibersamai oleh
Akh Arif Budiman, dan pembicara super yakni Akh Afri Yudantoko (Fakultas
Teknik). Beliau sangat aktif di berbagai organisasi seperti SKI, UKM, dan perkumpulan
pemuda di rumahnya. Namun soal prestasi akademiknya, pun sangat oke. Mondar-mandir
mengikuti lomba di nusantara, bahkan sampai ke Korea dalam perlombaan mobil
listrik. Beliau yang baru saja lulus dengan predikat Cumlaude, berpendapat
bahwa organisasi adalah tempat untuk mengeluarkan potensi/kekuatan. Antara
organisasi dan prestasi, beliau mengibaratkannya seperti timbangan (yang
bertiang). Di mana satu tiang utamanya itu adalah satu tujuan, satu motivasi,
yakni mencari ridho Alloh SWT. Berbuat baiklah setiap detik. Dan menurut
beliau, kesibukkan yang dimiliki dibuat enjoy saja, karena dengan kesibukkan
itulah salahsatu ikhtiar untuk mencapai ridho Alloh SWT.
Jam
menunjukkan pukul 17.10, panitia berkenan memberikan waktu untuk melanjutkan Syukrosa yang sebelumnya
dipending. Presentasi proker oleh Sekjend, Idari, Ma’ali, dan Mas’ul-Mas’ulah
HASKA JMF 2014. Masuk waktu Maghrib,
semua bersiap menuju masjid. Seusai sholat berjama’ah, kami membaca Al-Ma’surat bersama. Subhanalloh.
Dinding-dinding masjid pun ikut bergetar saat Al-Ma’surat dibacakan.
Dilanjutkan tilawah bersama
mengkhatamkan Al-Qur’an saat itu juga. Jadi para akhwat dibagi untuk membaca
beberapa lembar, hingga 30 Juz dapat khatam. Lalu sholat Isya’ berjama’ah.
Acara
selanjutnya yakni makan malam. Para
akhwat melingkar di dalam aula utama, sementara yang ikhwan di pelataran depan
rumah. Makan malam dibagikan. Setelah do’a bersama, kami memasukkan suapan demi
suapan dengan lahapnya. Setelah energy fully charged, peserta UG diarahkan
untuk berbaris di halaman depan rumah. Barisan ikhwan di depan barisan akhwat. Setelah
barisan sudah siap, semua peserta UG diinstruksikan untuk menutup mata dengan
slayer yang telah dibawa. Sebagian peserta mungkin sudah menduga bahwa pasti
ini acara susur malam. Dengan mata
tertutup, kami memegang bahu yang ada di depannya dalam satu barisan. Tanda
kepercayaan pada orang yang di depannya. Dan setelah diaba-aba, barisanku pun
mulai melangkah. Entah kakiku melangkah ke mana. Di kegelapan seperti ini,
suara-suara terdengar jauh lebih jelas. Derapan kaki-kaki, suara jangkrik, suara
sapi yang terbangun, gemericik air, hingga deruan napas. Rasanya kaki ini sudah
melangkah jauh sekali. Dan kebanyakan jalanan menanjak. Tak jarang kakiku
menginjak kaki Upi di depanku, tak sengaja tentunya. Napas-napas kami mulai
terengal-engal. Tapi kami tak berhenti melafalkan surat As-Saff ayat 1-5. Menanjak
dan terus menanjak. Masih dalam keadaan tertutup aku merasakan tanganku lepas
dari bahu teman di depanku. Kini aku dituntun oleh seorang akhwat yang aku tak
tahu itu siapa, suaranya seperti baru kudengar. Dalam keadaan mata masih
tertutup, aku dibawa ke suatu tempat, kupikir ini seperti lapangan berumput. Aku
duduk. Aku merasa di sekelingku banyak akhwat lain, tapi tak terengkuh olehku. Kebanyakkan
sedang melantunkan As-Saff 1-5. Tunggu, ada suara tak asing. Marha? Kau kah
itu? Nur? Kau kah itu? Tanganku meraba udara. Berusaha mendapatkan objek lain
selain udara. Di kegelapan ini, dengan As-Saff yang terus dilantunkan, akhirnya tangan ku bertautan dengan Marha dan
Nur. Aku tak lagi ‘sendirian’.
Beberapa
menit kemudian, suara lantang seorang ikhwan mengintruksikan kami untuk membuka
mata setelah diaba-aba. Tiga, dua,
satu... kami membuka mata, mengerjap-ngerjap untuk membiasakan mata menangkap
bayangan lain selain kegelapan. Subhanalloh. Malam-Mu terlalu luar biasa indah
untuk tak disyukuri. Malam itu, di suatu ketinggian, mata kami menangkap bayangan
yang sama: ratusan cahaya yang menerangi kegelapan di bawah sana. Peluh yang
sewaktu perjalanan terus mengalir, kini kuhiraukan. Ada keindahan yang lebih
dapat kuhiraukan saat itu. Mataku (dan mungkin semua mata yang ada di sana) tak
bisa lepas memandangi cahaya-cahaya di bawah sana.
Suara
lantang seorang ikhwan tadi (sampai saat ini aku lupa namanya ^^v) ‘memaksa’ ku
untuk sejenak melepaskan pandangan terhadap ratusan cahaya itu. Beliau memantik
semangat lillah kami untuk terus berjuang di jalan dakwah, berukhuwah,
bersama-sama di HASKA JMF FMIPA 2014. Seusai pantikan itu, peserta UG
diinstruksikan untuk kembali ke aula. Malam itu lebih bercahaya dari
malam-malam sebelumnya. Karena cahaya-cahaya itu hadir setelah kegelapan yang
tadinya ‘menjerat’. Malam itu lebih dari sekadar ‘susur malam’.
Perjalanan
kembali ke aula ini tentunya tanpa harus menutup mata lagi. Kulihat jalanan
yang kami lintasi tadi. Ternyata seperti ini medannya. Sampai di aula, sekitar
pukul 23.30, setelah semua pintu dan jendela tertutup, para akhwat bersiap
untuk mengistirahatkan raga dan pikiran, tidur. Malam ini menyimpan cerita
tersendiri. Di tengah ukhuwah yang hangatnya bukan main. Untaian kata tak mampu
mewakili kisah yang terjalin. Bismika Allohumma ahyaa wa amuut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar