Sabtu, 06 Juli 2013

Ketika Pemuda Jatuh Cinta

Oleh: Kartina Purnamasari

(rangkuman materi dari Ustadz Burhan Sidiq)

Cinta?????
Kecenderungan hati untukmelakukan sesuatu dengan serius untuknya
Seringkali muncul karenainteraksi
So, jaga pandangan. ( Jangan sukamelirik-lirik dan curi2 pandang, :D)

Naksir????????
Mulai mencari.. “kok dari tadibelum lihat si doi y?” (ouwch, tanda2 ini)

Deket???
Udah berani telpon2nan, hmmmmm

Kelemahan cewek,,:
Paling suka curhat, apalagi samacowok. ????? because,,cowok dianggep dewasa n bisa memberi kenyamanan, walaupunnggak memberi solusi yang jelas.
#kalau nggak mau ketergantungan,jangan coba2. Hehe,

What's on your mind?

Oleh: Ayu Ellen Shinta

ketika melihat koran tergeletak di atas meja,..kira2 apa yang akan
dilakukan??
akan dibaca atau hanya sekedar dilirik saja. 

Tahukah teman-teman ternyata koran yang biasa dibaca oleh bapak-bapak dapat
memberikan manfaat yang luar biasa bagi  perkembangan kosakata, bisa
menambah pengetahuan , informasi dan masih banyak lagi. jadi jangan
pernah berfikiran bahwa koran hanya untuk orangtua saja,tapi juga bisa
dibaca siapa saja. Asal yang dibaca adlah bacaan yang memang  pantas
dibaca sesuai dengan umur kita. Jangan sampai kita membaca pada
kolom-kolom yang kuraang pantas untukdibaca..

so, jangan pernah memandang sesuatu dengan sebelah mata, tapi pandanglah  dengan
menyeluruh dari sudut pandang yang berbeda..Semoga tulisan ini dapat
memberikan manfaat dan tambahan informasi.

BILIK-BILIK WAKTU

Oleh: Milatus Sa'diyyah

Tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur bak kilat, “Berapa tahun lagi aku bisa menghitungwaktu?”
Ini bukanperkara angka “Satu, dua, tiga....” dalam dunia matematika sederhana. Pertanyaanini menggelitik namun pasti mengusik ketenangan paradigma.

Keberadaannyaterus mengejar keseharian manusia, dia tak kenal lelah menyanding setiap detiknafas. Tangannya bergelayut bak akar gantung yang saat itu juga menarik-ulurkehidupan segala makhluk yang bernyawa. Sesulit apapun orang menggambarkanwaktu, justru kita akan tergambar oleh waktu. Pelan dan perlahan, hadirnyadinanti, dipuji atau bahkan ditakuti.

Rintik-rintikdetik waktu berfusi membumbung ke angkasa merangkai hifa-hifa masa. Apalah inikawan! Memang adanya waktu bukan untuk kita permainkan. Yaaah, benar...Layaknya sahabat yang selalu menemani, dia bahkan sahabat yang setiamem bersamai metamorfosa hidup kita.

Sosok Dibalik Layar Para Pemimpin

Oleh: Nur Indah Sari

pakahyang terbesit di benak kita jika mendengar Rasulullah SAW, Nabi Isa a.s, Nabi Musaa.s, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Habiburrahman El-shirazi dan masih banyak lagipara pencetak sejarah? Para khalifah yang berhasil menggenggam pencapaiantingkat tinggi dalam hidup ini. Nama-nama yang sering kita jumpai dalam banyakmedia baik majalah, buku, sejarah, bahkan Kitab Allah yang 100 % benar yaituAl-Qur’an. Nama-nama yang selalu membuat kita terpacu untuk berkarya tanpabatas, memacu otak, hati dan raga ini selalu ingin menjadi orang-orang yangmeneladani sifat-sifatnya yang mulia.

Tapi, pernahkah kalian berfikir siapa yang ada di balik kesuksesan mereka?
Siapa yang siap menopang lelah ragamereka?
Siapa manusai yang berdiri tepat dibelakang mereka?

Jawabannya hanya satu, tak ada lagi yang kedua. Dia sosok yang tak bisa lepas dari hidup setiap insan (nabi Adam a.s sekalipun). Selama ini mungkin beliau hanya diartikan dalam arti sempit. Tapi sesungguhnya dia mempunyai nilai yang dahsyat dari segi hati nurani setiap insan. Dialah...

Ibu
(baik ibu yang terikat karena pertalian darah maupun ibu yang terikat karena ikatan hati nurani yang kuat dan menguatkan)

Tak Ada Yang Tak Mungkin

Oleh: Erna Wibawanti

Terlihat seorang anak yang duduk merenung meratapi nasib. Sudah sekian lama ia tak lagi mendapat kasih sayang seorang ibu. Sejak berumur 5 tahun, ia ditinggal olehsang ibu. Kehidupan yang dulu lengkap, hanya dengan sekejap semua dapat hilangdalam sekejab. Sungguh sebuah kehidupan yang terkadang tak ingin dialami olehsemua orang, akan tetapi takdir berkehendak lain. Hari- hari demi hari hidup seakan tak ingin ia alami. Sebut saja anak itu bernama Anisa. Sekarang, iahanya tinggal bersama ayah tercinta. Anisa mempunyai 4 orang bersaudara, akantetapi kini keempat saudaranya tersebut sudah menikah dan tinggal bersamasuaminya.

Sedih,rindu, dan sepi. Menjerit namun tak bisa. Terkadang dia berpikir, ini semuatidak adil baginya. Semua orang meninggalkan dia seorang diri. Sungguh cobaan berat,tak mampu harus dia hadapi sendiri. Sekolah terpaksa ia hentikan. Di dalampikiran saat itu adalah bagaimana caranya dia dapat bertahan hidup bersamaayahnya. Menjual koran, menjual makanan di dalam bus sudah biasa baginya.Sungguh nasib yang tak ingin dia alami saat itu. Ya Allah, apakah ini cobaandari- Mu,” ucapnya dalam hati”. Sungguh aku tak akan mampu memikulnya sendiri, “tambahnya dalam hati”. Sungguh berat bagiku, berilah keringanan agar aku dapatmenghadapi semua ini. Pundakku tak kuat. Usiaku yang masih kecil, belum dapatberpikir kritis, masalah yang terus ada membuat aku menyerah menghadapi hidup,”ucapnya dalam hati”..

HIDUPMU, WARNAMU...

Oleh: Pudyaswara Mustikarini

Kehidupan ini bagaikan potongan puzzle baginya. Ya, potongan-potongan itu harus disatukan agar terbentuk suatu gambar yang indah. Seperti kehidupan, yang tiap bagiannya harus disatukan untuk mencapai sebuah keindahan hati. Kepuasan, ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dan tentu saja sebuah keindahan. Setiap orang punya potongan puzzlenya sendiri yang porsinya sudah diatur oleh yang membuat potongan-potongan itu.

     Potongan puzzle. Itu kata-katanya. Bagiku, tetap saja kehidupan itu abstrak. Tak bisa diterka bagi yang tak benar-benar mengetahui maksudnya. Dan yang tahu maksdunya itu hanya Dia yang membuat. Setiap bagian dari kehidupan ini, bagaikan warna-warna yang digoreskan pada selembar kertas. Semakin banyak, semakin menumpuk, seperti lukisan. Dan keabstrakan yang ada didalamnya bahkan kita sendiri tak pernah menyadarinya. Hanya jika lukisan itu jadi, barulah kita tahu apa maksud dari coretan-coretan itu. Tapi itu pun tak mudah, keabstrakan membuat kita sulit membaca makna terpendam dalam lukisan itu. Hal yang dalam pikiran kita mirip dengan rusa, ternyata oleh pemiliknya itu gambar sebuah wajah yang bersedih. Sama seperti hidup, hal yang kita anggap itu baik, ternyata oleh pemilik hidup sama sekali tidak cocok dengan kita.

Ini Ceritaku dihari ini, Apa Ceritamu?

Oleh: Yuyun Amsari


                Dihari ini (06-04-2013) aku terbangun oleh suara Handphone-ku,ketika aku terbangun aku lihat jam itu baru saja menunjukkan pukul 03.10 WIB. Kuberbaring sebentar saja untuk membuat matafreshsejenak setelah tidur yang cukup singkat tadi malam. Namun apa dikata saat aku berbari ternyata aku tertidur pulas kembali selama 1 jam. Aku segera bangun, takberpikir panjang, bergegas berlari menuju kamar mandi untuk mencuci wajah darisegala kotoran dan hal lainnya, sebelum adzan shalat subuh berkumandang. Adzan puntiba dan aku lekas pergi ke masjid An-Nur sebelah barat kos ku untuk shalat berjamaah.

                Handphone-ku berbunyi sekiranya pukul04.50 WIB, kring . . . kring . . . kring, ternyata ibuku sms “aa bangun shalatsubuh”, begitu baiknya orangtuaku membangunkanku untuk shalat subuh dan itumemang terjadi setiap paginya. Kring . . . Kring . . . Kring . . . Handphone-ku berdering kembali saatwaktu menunjukkan pukul 06.10 WIB, mbak ana sms diriku “de nanti jangan lupa ya,jam 07.00 kita kumpul di deksel untuk berangkat bareng ke UGM untuk ikut dalamacara Sekolah IKAHIMKI, ditunggu ya”. Lalu aku pun mengirimkan sms balasan “Yambak siap heheheh”. Sebelum aku pergi aku mengisi waktu luangku denganmengerjakan tugas laporanku yang harus dateline untuk hari selasa. Tak terasawaktu terus berjalan waktu yang aku rasa lama ternyata berjalan dengancepatnya. Aku melihat jam . . . oh tidak sudah jam 06.30 WIB, aku segera lekaske kamar mandi dengan membawa perlengkapan mandi. Setelah mandi, aku ganti bajudan segera mengeluarkan kendaraan kesayanganku “si putih”, ku kunci pintu kos ku,sesegera mungkin ku kayuh sepedaku dan ku ucap selamat pagi pada dunia. Perjalananyang memakan waktu selama 20 menit tak terasa begitu cepat. 

Pendidikan Vs Pekerjaan (Mana yang lebih utama)

oleh: Karyanto

Diera globalisasi ini, banyak orang tua yang lebih menginginkan anaknya untukbekerja dari pada menuntut ilmu. Kebutuhan ekonomi yang saat ini begitu tinggi danmendesak menjadi salah satu faktor mengapa hal tersebut yang lebih diutamakan.Pikiran yang negatif juga menyertai keinginan untuk lebih mengutamakanpekerjaan dari pada menuntut ilmu setinggi-tingginya dengan alasan sudah banyaksarjana2 zaman sekarang yang  menganggur,jadi berdasarkan pandangan mereka belum tentu nanti kalau anaknya menjadisarjana langsung mendapaatkan pekerjaan, bahkan di tengah kerasnya kehidupan sekarangini bisa saja anaknya menjadi seorang tukang ojek tukang becak bahkan pengemissekalian. Berdasarkan pandanga yang demikian ini perlu dipertanyakan tentangkeyakinan adanya tuhan, mereka tidak sadar akan nikmat Tuhan yang begitu luarbiasa diantaranya yaitu rizki seseorang.

 Hal yang perlu diperhatikan semua orang yangberpandangan negatif tentang pendidikan, bahwa sesungguhnya menuntut ilmu dalamislam itu menjadi hal yang diwajibkan, bahkan orang yang sudah lanjut usiapunmasih diwajibkan, karena dalam hal ini menuntut ilmu itu wajib seumur hidup.Dan yang perlu diprhatikan juga bahwa orang yang meninggal yang pahalanya masihberjalan terus menerus salah satunya adalah ilmu yang bermanfaaat, tapisekarang ini orang-orang seakan-akan sudah dirasuki oleh paham kapitalisme yanglebih menginginkan hal yang bersifat keduniaan yang tidak akan kekaldibandingkan hal yang bersifat ukhrowi yang akan abadi selama-lamanya. Lebihmementingan memperkaya diri dari pada memperkaya ilmu.

KITA

Teruntuk: Sahabatku

Aku tersenyum
Lekat pula menatap embun
Terburai di kaca tak berkerumun
Sisa hujan sore ini
Kau tersenyum
Dekat pula di balik hujan
Mengurai cerita perlahan
Tentang kita dan sebuah persahabatan
Aku mulai bercerita, perlahan kau tertawa
Aku tersenyum, kau tampak gembira
Tak ubah layaknya debu hari ini
Habis terhapus sang hujan mewangi,
begitulah kesahku saat ini
Aku berdiri, kau mulai merangkai kata
Aku berjalan, kau mulai bercerita
Ya, aku bertindak kau berbuat
Aku keras pada sikapku
Kau keras pada tingkah lakumu
Ya, ini kita
yang menyulam kenangan untuk masa depan
Saling melengkapi saling berbagi
Bersama, menyatu, menuju mimpi
Aku dan kau
Tentang kita

oleh: Atika Izzatul Jannah

Karena Cinta adalah Kata Kerja.

Cinta. Ah, cinta. Selalu saja menarik untuk dibicarakan. Selalu saja memiliki daya tarik untuk dituliskan. Cinta, bagaimanakah seharusnya cinta? Pernahkah kau merasakannya?  

Cinta adalah fitrah dalam setiap diri manusia. Aku, kamu, dia, mereka, pun kalian, pasti memilikinya. Rasa cinta itu ada di dalam dada, dekat dengan hati. Terkadang jika bicara cinta, akal dan logika untuk sementara mengalah untuk mempersilakannya bicara. Karena setiap orang memilikinya, mulai dari anak kecil sampai penjahat kelas kakap sekalipun, pasti pernah memiliki rasa cinta.  

Ya. Saat bicara cinta, tak hanya perkara muda-mudi yang terlintas...
“Aku mencintaimu..” atau
“Maukah engkau menjadi kekasihku?”  

Bukan. Bukan cinta seperti itu yang dimaksudkan. Karena ternyata, terlalu sempit jika kita menyatakan cinta untuk hal seperti itu. Cinta itu luas! Cinta itu memiliki makna yang luar biasa.  

Karena cinta adalah kata kerja, maka ia membuat hati-hati dan jiwa-jiwa ini tergerak untuk melakukan kebaikan. Cintalah yang membuat seorang Ibu mampu bersabar mengandung dan berpayah-payah menahan sakit, demi kelahiran putra yang ditunggunya. Cintalah yang membuat seorang guru teguh memberikan pengajaran penuh kesabaran kepada setiap anak didiknya. Cintalah yang membuat tukang sampah tak lagi jijik memunguti sampah di pinggiran kota. Cintalah yang membuat seorang pejuang merelakan harta, benda, dan jiwa, dan nyawanya untuk dikorbankan. Cintalah yang membuat Induk burung terbang mencari makanan untuk anak-anaknya di sarang. Cintalah yang membuat negeri ini mampu merdeka. Ya, semuanya karena cinta...  

Maka dalam memaknai cinta, mari bersikap bijaksana. Karena cinta tak sekedar kata. Ia adalah kata kerja. Maka agar ia selalu menuntun kita dalam melakukan kebaikan dan amal-amal nyata, sertakan iman di dalamnya. Karena sesungguhnya, iman-lah yang membedakan kualitas cinta. Menyerahkan segala sesuatunya kepada Sang Maha Pemilik Cinta, agar kembali dalam keadaan bercahaya. Dan jika kau cinta, lakukan dengan penuh cinta, penuh kesungguhan, penuh keikhlasan...  

Para pecinta sejati tak suka berjanji, tetapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai, Mereka akan segera membuat rencana untuk memberi...(Anis Matta) 

oleh: Rizki Ageng Mardikawati