Kegiatanku
di 8 dan 9 Maret lalu....
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillah....
Ku
awali pagi dengan bergegas ke kamar mandi. Butiran – butiran air itu membasahi
pipi, tangan hingga kakiku. Pagi itu tepat pukul 03.00. Seperti pagi – pagi
sebelumnya. Air wudhu telah sempurna mensucikanku. Alhamdulillah, masih bisa
aku hirup aroma pagi yang damai nan menyegarkan ini. Ku gelar sajadah ungu
bergambarkan ka’bah sambil berharap jika suatu saat nanti aku dapat pergi
kesana bersama orang tuaku. Dua rakaat dan ku akhiri dengan salam. Seperti
biasa pula, ku buka al matsuratku.Tapi ada yang lain yang kurasakan akhir –
akhir ini. Namun ku pikir sudahlah, itu hanya akan memberatkan pikiranku saja.
Ku
pandangi langit yang mulai memerah. Indah... hanya itu yang terlintas di
benakku. Teringat akan cobaan yang Allah berikan beberapa hari lalu kepadaku.
Ujian kesehatan. Subhanallah aku masih bisa merasakan indahnya dunia pagi ini.
Aktivitas pagi lain yang biasa ku jalani adalah mencuci baju yang memang sudah
ku jadwalkan rutin kulakukan setiap weekend.
Tapi seperti biasa juga saat menjemurnya haru menunggu pukul 09.00. kenapa?
Karena malu dilihat oleh tetangga depan rumah.
Sedikit
cerita. Tetangga depan rumahku adalah juragan bakwan kawi yan itu artinya bahwa
di tempat itulah para penjual bakwan kawi tinggal. Dan kata ibu “mboten sopan
nduk, penjuale jaler sedaya.” Dan memang benar apa yang ibu katakan itu.
Handphone
ku bergetar menunjukan ada pesan masuk. “ummi ije”. Ku buka dengan sedikit deg
– deg an. Karena hari ini teman – teman ranger sedang Upgrading Haska. Pesannya
berisi bahwa teman – teman sedang makan siang. Dan ummi menanyakan juga apa
yang sedang kamu lakukan? Subhanallah, ummi masih mengingat anaknya meskipun
beliau sibuk dengan kegiatan UG. Sedih sebenarnya tidak bisa ikut merasakan
kebersamaan UG bersama keluarga baruku di Haska. Tapi sekali lagi restu orang
tua memang yang paling utama setelah ridho Allah.
Tidak
ada hal menarik lain yang kulakukan selama di rumah. Antara masih sedih tidak
bisa mengikuti UG dan juga tidak ada hal harus ku kerjaan. Lalu ku putuskan
untuk tidur siang. Dan aku terbangun saat Adzan Ashar berkumandang seakan
memanggilku untuk mendekatinya. Lalu ku putuskan untuk sholat berjamaah di
masjid.
Masjid
Jami’ Al Ukhuwah, nama yang indah. Namun, lagi – lagi aku tersadar, sudah
berapa lama aku tak menginjakan kakiku ke tempat ini. Tempat yang dulu sering
ku datangi. Untuk sholat berjamaah, mengajar ngaji atau sekedar berkumpul
dengan teman – teman RISMA (Remaja Islam Masjid). Ku lihat para jamaah mulai
berdatangan. Dan sangat menyedihkan, karena orang – orang yang datang tak lain
orang – orang yang dulu bersamaku meramaikan masjid dan hanya itu – itu saja.
Istiqomah,
itulah hal yang masih sulit untuk kulakukan. Padahal Allah selalu memberikanku
kemudahan namun aku yang tak pernah melihat kemudahan itu.
“Mbak
Deta....” terdengar suara kecil memanggilku. Aku menoleh dan kutemui anak –
anak kecil yang dulu menjadi muridku mengaji. Dan ternyata mereka masih rutin
mengaji setiap seminggu tiga kali. Subhanallah...lagi – lagi tamparan kecil ini
meruntuhkan kesombongan dalam diriku.
Akupun
memutuskan untuk mengajar mereka mengaji. Meskipun harus ku tahan air mata yang
sedari tadi ingin kutumpahkan. Polos sekali mereka, dengan kegembiraan mereka
datang ke sini berbondong- bondong untuk mencari ilmu. Bahagia sekali rasanya
melihat mereka bisa belajar mengaji seperti sore ini.
Aku
pulang dengan segelintir pertanyaan di benakku. Mungkinkah diriku sendiri yang
membuatku merasa tak bahagia? Aku terdiam dan merenungi kejadian hari ini.
Orang- orang yang dulu menjadi peramai masjid bersamaku, sampai sekarang mereka
masih istiqomah. Dan aku, yang hanya karena sedikit saja sibuk menjadi aktivis
kampus terlena untuk bermalas – malasan beribadah.
Ya
Allah, ampuni aku. Ini teguran dari Mu yang baru kusadari sekarang. Harusnya
aku lebih peduli terhadap apa yang ada dilingkungan sekitarku. Ku putuskan
untuk merubuhkan dinding kesombongan yang ada di dalam diriku. Aku harus
berguna bagi sesama dan hal itu semata – mata kulakukan hanya karena Allah.
Itulah prinsipku dulu dan harus tetap menjadi prinsipku saat ini, besok dan
sampai akhir nanti.
Istiqomah......
Pagi
ini di hari minggu aku putuskan untuk ikut ibu ke pasar berbelanja seperti
biasa. Ku lihat para pedangan yang tetap sama seperti saat aku masih kecil dulu
dan sering diajak ibu pergi ke pasar.
“wah
mbak deta, sampun gedhe nggih sakniki?” ujar salah satu pedagang yang asing
bagiku. Ternyata beliau adalah pedagang gudheg yang dulu menjadi teman
seperjuangan Alm. Nenekku yang juga seorang penjual gudheg. Lagi – lagi
nostalgia lampau yang kutemui. Kulihat jajanan jananan pasar yang dulu juga
sering ku makan. Ada kue putu, bolu kuku, kue apem dan masih banyak lainnya.
Subhanallah memang segalanya dapat istiqomah jika kita mau melaluinya dengan
cara istiqomah.
Dua
hari yang sangat berkesan bagiku. Meskipun tidak dapat merasakan kebersamaan
bersama para ranger di UG Haska, namun setidaknya aku dapat menemukan kembali
arti istiqomah yang sesungguhnya.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.....
HermadetaWidya
Septiani
a.k.a
Ranger Hijau Tosca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar