Jumat, 02 Mei 2014

Ku Menemukannya


Kegiatanku di 8 dan 9 Maret lalu....
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Bismillah....
Ku awali pagi dengan bergegas ke kamar mandi. Butiran – butiran air itu membasahi pipi, tangan hingga kakiku. Pagi itu tepat pukul 03.00. Seperti pagi – pagi sebelumnya. Air wudhu telah sempurna mensucikanku. Alhamdulillah, masih bisa aku hirup aroma pagi yang damai nan menyegarkan ini. Ku gelar sajadah ungu bergambarkan ka’bah sambil berharap jika suatu saat nanti aku dapat pergi kesana bersama orang tuaku. Dua rakaat dan ku akhiri dengan salam. Seperti biasa pula, ku buka al matsuratku.Tapi ada yang lain yang kurasakan akhir – akhir ini. Namun ku pikir sudahlah, itu hanya akan memberatkan pikiranku saja.
Ku pandangi langit yang mulai memerah. Indah... hanya itu yang terlintas di benakku. Teringat akan cobaan yang Allah berikan beberapa hari lalu kepadaku. Ujian kesehatan. Subhanallah aku masih bisa merasakan indahnya dunia pagi ini. Aktivitas pagi lain yang biasa ku jalani adalah mencuci baju yang memang sudah ku jadwalkan rutin kulakukan setiap weekend. Tapi seperti biasa juga saat menjemurnya haru menunggu pukul 09.00. kenapa? Karena malu dilihat oleh tetangga depan rumah.
Sedikit cerita. Tetangga depan rumahku adalah juragan bakwan kawi yan itu artinya bahwa di tempat itulah para penjual bakwan kawi tinggal. Dan kata ibu “mboten sopan nduk, penjuale jaler sedaya.” Dan memang benar apa yang ibu katakan itu.
Handphone ku bergetar menunjukan ada pesan masuk. “ummi ije”. Ku buka dengan sedikit deg – deg an. Karena hari ini teman – teman ranger sedang Upgrading Haska. Pesannya berisi bahwa teman – teman sedang makan siang. Dan ummi menanyakan juga apa yang sedang kamu lakukan? Subhanallah, ummi masih mengingat anaknya meskipun beliau sibuk dengan kegiatan UG. Sedih sebenarnya tidak bisa ikut merasakan kebersamaan UG bersama keluarga baruku di Haska. Tapi sekali lagi restu orang tua memang yang paling utama setelah ridho Allah.
Tidak ada hal menarik lain yang kulakukan selama di rumah. Antara masih sedih tidak bisa mengikuti UG dan juga tidak ada hal harus ku kerjaan. Lalu ku putuskan untuk tidur siang. Dan aku terbangun saat Adzan Ashar berkumandang seakan memanggilku untuk mendekatinya. Lalu ku putuskan untuk sholat berjamaah di masjid.
Masjid Jami’ Al Ukhuwah, nama yang indah. Namun, lagi – lagi aku tersadar, sudah berapa lama aku tak menginjakan kakiku ke tempat ini. Tempat yang dulu sering ku datangi. Untuk sholat berjamaah, mengajar ngaji atau sekedar berkumpul dengan teman – teman RISMA (Remaja Islam Masjid). Ku lihat para jamaah mulai berdatangan. Dan sangat menyedihkan, karena orang – orang yang datang tak lain orang – orang yang dulu bersamaku meramaikan masjid dan hanya itu – itu saja.
Istiqomah, itulah hal yang masih sulit untuk kulakukan. Padahal Allah selalu memberikanku kemudahan namun aku yang tak pernah melihat kemudahan itu.
“Mbak Deta....” terdengar suara kecil memanggilku. Aku menoleh dan kutemui anak – anak kecil yang dulu menjadi muridku mengaji. Dan ternyata mereka masih rutin mengaji setiap seminggu tiga kali. Subhanallah...lagi – lagi tamparan kecil ini meruntuhkan kesombongan dalam diriku.
Akupun memutuskan untuk mengajar mereka mengaji. Meskipun harus ku tahan air mata yang sedari tadi ingin kutumpahkan. Polos sekali mereka, dengan kegembiraan mereka datang ke sini berbondong- bondong untuk mencari ilmu. Bahagia sekali rasanya melihat mereka bisa belajar mengaji seperti sore ini.
Aku pulang dengan segelintir pertanyaan di benakku. Mungkinkah diriku sendiri yang membuatku merasa tak bahagia? Aku terdiam dan merenungi kejadian hari ini. Orang- orang yang dulu menjadi peramai masjid bersamaku, sampai sekarang mereka masih istiqomah. Dan aku, yang hanya karena sedikit saja sibuk menjadi aktivis kampus terlena untuk bermalas – malasan beribadah.
Ya Allah, ampuni aku. Ini teguran dari Mu yang baru kusadari sekarang. Harusnya aku lebih peduli terhadap apa yang ada dilingkungan sekitarku. Ku putuskan untuk merubuhkan dinding kesombongan yang ada di dalam diriku. Aku harus berguna bagi sesama dan hal itu semata – mata kulakukan hanya karena Allah. Itulah prinsipku dulu dan harus tetap menjadi prinsipku saat ini, besok dan sampai akhir nanti.
Istiqomah......
Pagi ini di hari minggu aku putuskan untuk ikut ibu ke pasar berbelanja seperti biasa. Ku lihat para pedangan yang tetap sama seperti saat aku masih kecil dulu dan sering diajak ibu pergi ke pasar.
“wah mbak deta, sampun gedhe nggih sakniki?” ujar salah satu pedagang yang asing bagiku. Ternyata beliau adalah pedagang gudheg yang dulu menjadi teman seperjuangan Alm. Nenekku yang juga seorang penjual gudheg. Lagi – lagi nostalgia lampau yang kutemui. Kulihat jajanan jananan pasar yang dulu juga sering ku makan. Ada kue putu, bolu kuku, kue apem dan masih banyak lainnya. Subhanallah memang segalanya dapat istiqomah jika kita mau melaluinya dengan cara istiqomah.
Dua hari yang sangat berkesan bagiku. Meskipun tidak dapat merasakan kebersamaan bersama para ranger di UG Haska, namun setidaknya aku dapat menemukan kembali arti istiqomah yang sesungguhnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.....

HermadetaWidya Septiani
a.k.a Ranger Hijau Tosca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar